Minggu, 13 Januari 2013

Mini FF "Kentang Kantong"


Mini Horror Story

Title : Kentang Kantong
cast:
Daesung
Seungri

Malam itu sekitar pukul 21.42 Daesung dan Seungri pulang dari sebuah mini market dekat rumah mereka. Di perjalanan mereka melintasi sebuah rumah besar dan rumah itu terlihat sangat gelap. Menurut isu rumah itu sudah bertahun-tahun tdk dihuni dan juga rumah itu dikenal dengan sebutan Rumah Ketang. (hehehe, mumpung lagi ngetrand rumah kentang, jadi terinspirasi jadikan objek deh...) 
"Hyung katanya rumah itu angker ya?" tanya Seungri penasaran
"hmmm, sepertinya begitu. Kalau diperhatikan di sana gelap dan menyeramkan" jawab Daesung sedikit merinding.
"aku takut Hyung, jangan melihat ke sana lama-lama, aku kan jadi ingin melihat juga"
"dasar kamu kalau takut tidak usah ikut menengok" sambil menjitak kepala Seungri.
"adaaww.. Sakit Hyung..." keluh Seungri
"Tapi dengar-dengar ya rumah itu di sebut rumah kentang " tegas Daesung
"apa mungkin pemilik rumahnya dulu penjual kentang, atau mati gara-gara keselek kentang, hahaha..." tebak Seungri ngawur  XD. Lagi-lagi Seungri dapat jitakan kedua dari Daesung.
Tapi tiba-tiba  Daesung mencium aroma kentang. Bulu kuduknya pun mulai merinding. Seungri masih sibuk memegangi kepalanya yang kesakitan karena dijitak.  Ia tidak menyadari apa yang terjadi pada Daesung.
"Seungri sepertinya kita harus mengambil langkah seribu" Daesung dengan muka tegang
"banyak sekali Hyung seribu, seratus sja capek “ *Seungri  nggak conec -.-*
"pokoknya kita harus cepat pergi dari tempat ini! Aku baru saja mencium bau kentang, yang artinya sesuatu sebentar lagi akan tampak" muka ketakutan ~.~
karena sangat ketakutan, tanpa mendengarkan lagi  jawaban Seungri, Daesung berlari meninggalkan Seungri yang masih kebingungan.
"Hyung jangan tinggalkan aku..!"  berteriak memanggil Daesung yang muliai hilang dari pandangannya.
karena penasaran dengan bau yang dicium Daesung, Seungri mulai mengendus-ngendus  ala Boss melacak bau. Ternyata Seungri betul" menemukan bau kentang itu.
"Ya Tuhan. Hyung itu bagaimana sìh.. Baunya kan berasal dari kantong belanjaan kita. Katanya mau makan ketang goreng buatan TOP, ehh malah lupa. Dasar Daesung penakut :p XD" *biasssa, klau tdk di depan para Hyungnya paling malas panggil Hyung, makhnae kundang -__-*
Sampai saat itu Seungri tidak menyadari kalau dia sebenarnya sedang sendirian. Setelah merasa puas menertawakan Daesung. Seungri mulai menengok kanan,kiri, belakang betul" tdk apa siapa" *bru sadar kalau  sendiri :p*
dia kembali menengok ke rumah yang gelap itu. Dilihatnya seorang anak yg sedang asik bermain di teras rumah itu. *hayo anak siapa itu larut malam masih maen di teras ~_~*
Hembusan angin mulai menerpa wajah Seungri, sangat dingin terasa saat itu. Perasaan yang tak enak mulai menggerogoti pikirannya dan membuatnya harus mengikuti jejak Daesung yang  sedari tadi sudah menghilang dipandangannya.

~~end~~






Let's Go with Love (Part 1)

LET’S GO WITH LOVE

Cast:
Choi Seung Hyun 
Kang Ree Na
Kim Hyun Mi
Lee Soo He


apa aku salah....?
ini hanya serentetan perassanku 
aku tahu kau tak kan mampu untuk  berseketu dengan keyakinanku
tapi...
rasa ini melebihi apa yang ada dan sempat menjebakku.....



            Bel berbunyi, siswa-siswa berhamburan keluar kelas. Aku dan sahabatku Hyun Mi beriringan keluar dari gerbang sekolah. Syukurlah aku dan Hyun Mibisa bersekolah di SMA yang sama, setelah Masa Orientasi Siswa usai aku dan Hyun Miditempatkan di kelas X1. Kami berjalan menelusuri jalan raya diwarnai cerita-cerita.. Hari ini tak ada   yang menjemputku jadi kuputuskan untuk singgah dulu dirumah Hyun Mi. Kami terus berjalan dengan penuh tawa dan canda, tiba-tiba terdengar suara motor dari belakang, tenyata itu Seung Hyun

            “ Annyeong Ree Na, aku mau menawarkan tumpangan untukmu, mau ikut tidak ?”

            “jinjah, Seung Hyun aku boleh ikut dengamu?”

            “Ne… tentu!”

            “Hyun Mi aku duluan ya, gomawo sudah menemaniku”

“Ne… cheonma, hati-hati ya! Yaa... Seung Hyun-aah, jaga sahabatku ya! Bawan motornya jangan kencang-kencang!" tegas Hyun Mi

            “Ani, aku kan bukan Valentino Rossi? kalau begitu kami duluan ya”

            Hari itu adalah pertama kalinya aku nebeng ikut Seung Hyun, karena aku dan Seung Hyun satu sekolah kami tak begitu jarang ketemu, senneng sih tapi gelisah itu tetap ada menyelimuti hati. Sepanjang jalan kami terus bercerita sampai jarak delapan kilometer tak terasa. Rasanya ingin lebih lama lagi bersamanya. Rasa tentram saat dekat dengannya membuatku menjadi betah bersamanya.

            Cinta memang tak pernah mengenal waktu, sama denganku mengapa aku bisa menyukainya padahal dia adalalah mantan kekasih sahabatku, apa itu salah. Tapi itu nyata dan dia pun merasakan hal yang sama denganku perasaan yang membingungkan diri sendiri. Apa aku harus terus dalam rasa bersalah ini. Aku tahu Soo He  masih suka padanya. Ya Soo He  sahabatku mantan kekasih Seung Hyun, namja yang  memutuskan status pacarannya dengan Soo He beberapa bulan lalu dan sekarang dia menyatakan kalau dia menyukaiku. Aku bingung harus berbuat apa aku juga sebenarnya suka padanya. Bagaimana dengan persahabatanku dengan Soo He, apa aku harus membohongi persaanku sendiri, tak tau sampai kapan aku akan bertahan menahan persaan ini.

            Pagi itu sangat cerah sang surya akan kembali melaksanakan tugasnya, menyinari sebagian sisi dari dari bumi. Ku raih tas sekoahku dan berlari keluar dari rumah. Tapi siapa yang menyangka ternya Seung Hyun sedari tadi nangkring di depan rumahku bersama motor hitam besarnya. Seung Hyun mulai melmparkan senyumannya padaku “Oh Tuhan sepertinya kau akan hayut melihat senyumannya yang begitu memukau” yang terbesik dalam hatiku.  Aku mulai menjernihkan pikiranku, untuk apa namja itu pagi-pagi datang kemari, hanya membuat jantungku copot saja. Dan memang tak begitu susah Seung Hyun untuk menemuiku karena kompleksku berbatasan dengan kompleksnya.

 “Ree Na bagaiman dengan pernyataanku kemarin ?”

            “Aduhhh… bagaiman ya… mianhae  Seung Hyun aku belum bisa jawab sekarang, aku butuh waktu untuk memkikirkan semuanya”

“Ne…  tak apa-apa, aku tunggu jawabanmu”

Itulah akhir pembicaraan kami yang mungkin menimbulkan banyak tanya dalam otak Seung Hyun. Tapi jika memang Seung Hyun serius aku yakin dia akan terus bersabar untuk menunggu.

Hari terus berjalan sampai berbulan-bulan aku tak memberi jawaban pada Seung Hyun. Aku pun tak tau bagaimana kabarnya sekarang apa dia sudah menyerah karna aku yang kelamaan. Ya mungkin ini jalan terbaik agar persahabatanku dengan Soo He tak  hanya menjadi sejarah. Dan sampai sekarang persahabatan kami masih terjalin dengan baik. Sampai suatu hari aku dan Soo He pergi bersama beberapa teman lain. Kami pergi ke salah satu taman wisata   Huwon, yang berada di dalam kompleks istana Changdeok . Aku pun tak menyangka perjalan itu akan memberikan Soon He sosok namja penggati Seung Hyun. Tak sampai beberapa minggu Soo He pacaran dengan  namja yang kami temui beberpa hari yang lalu di taman wisata, aku pun bahagia melihat sabatku masih bisa membuka pintu hatinya pada orang lain, apakah ini juga jalan yang di kasih Tuhan padaku agar akupun bisa bersama Seung Hyun? Tapi sudalah mungkin Seung Hyun sudah melupakanku, aku yang pernah membuatnya terlalu lama menunggu.

Setahun telah berlalu aku dan Hyun Mi sudah duduk di bangku kelas XI. Selang beberapa waktu setelah penaikan kelas aku mendengar berita kalau ada siswa kelas XII yang akan pindah sekolah, ya tak salah lagi itu Seung Hyun. Darahku seketika seakan berhenti beredar, jantungku berdetak kencang tatkala aku mendengar berita itu, aku bingung harus bagaimana apakah hatiku akan terus menahan sakit ini. Pulang sekolah aku berjalan keluar gerbang rasanya ingin sekiali bertemu dengan Seung Hyun ingin menanyakan apakah dia akan benar-benar meninggalkanku. Ternyata Tuhan mendengar permintaanku, ku dengar seseorang memanggilku dari belakang tak salah lagi Seung Hyun yang memanggilku.

“Wae Seung Hyun…?”
“Anni, aku hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu, ada waktu?”
“Ne… memangnya mau membicarakan apa?”
“Ayo…”

Seung Hyun mengajakku duduk di bawah pohon depan kelasnya, disana dia memberitahuakan aku bahwa dia akan pindah sekolah.

“Benarkah Seung Hyun kamu akan pidah sekolah?” tanya Ree Nai was-was.
“Ne, bukannya aku ingin pergi darimu, tapi ayahku dipindah tugaskan ke Jepang, aku juga sebenarnya berat meninngalkanmu tapi aku tak punya pilihan lain aku dan ibuku harus ikut ayah, di sana aku akan melanjutkan sekolahku. Aku akan berangkat besok”

Kami saling bertatapan dan tak terasa air mataku telah bermuara di pipiku, aku berdiri dan berlari meninggalkan Seung Hyun tangpa sepatah kata pun, aku tak bisa menahan perasaanku yang  sudah tak menentu.

***

        Di rumah aku tak dapat berkonsentrasi karena aku tak tahu harus bersikap bagaimana. Seketika kudengar lantunan lagu favoritku “Bigbang Day by Day” ‘Dorabojimalgo tteonagara Tto nareul chatjimalgo saragara Neoreul saranghaetgie huhoeeopgie Johatdeon gieongman gajyeogara’ ku arahkan pandanganku ke sekeliling kamarku, kulihat  Hand Phoneku  sedang berbunyi. Ku raih Hand Phoneku dan mengamati layarnya, ternyata Seung Hyun, ya Tuhan cobaan apa lagi yang Kau hantarkan padaku, ku terima telfonnya dengan hati yang sangat gelisah.

Annyeonghanseo…”
Annyeong, Ree Na”
“Ada apa…?”
“Kenapa tadi siang kamu meninggalkanku begitu saja…?”
Mianhae  Seung Hyun, sebenarnya tadi aku sedang bingung... aku tak mau menammpakkan kesedihan padamu".
“Tapi tidak harus pergi kan? Masih banyak hal yang ingin aku katakan padamu. Aku hanya
  ingin menuntaskan perasaanku, aku yankin kamu juga ingin menuntaskannya, dan selama ini aku tak pernah mempertanyakan itu lagi padamu karena aku tak ingin membuatmu menjadi lebih bingung, dan karena besok adalah hari terakhirku di sini mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mempernyakannya kembali ”
“Seung Hyun aku… aku… juga sebenarnya menyukaimu” kata yang meluncur begitu saa dari mulutku. “Maafkan   aku selama ini telah membuatmu menunggu terlalu lama”
 “jinjha, Ree Na kamu mau nerima aku?” terdengar suara yang  keras dari mulut Seung Hyun
 “tapi, besok kita akan berpisah apa kamu sanggup menjalin hubungan jarak jauh? Seandainya dari dulu kamu menyatakannya kita tidak akan serumit ini”
 “Sudalah Seung Hyun tak  apa-apa, kepastian ini sudah membuatku agak lega, tapi bagaimana dengan kamu sendiri, apa kamu sanggup?”
 “Kau tak usah menghawatirkan aku.  Aku pasti akan selalu mengingatmu, aku akan sering-sering meneleponmu dan kirim e-mail padamu”
 “Bukannya gitu Seung Hyun tapi…”
 “Tak ada tapi-tapian lagi yang penting sekarang kamu sudah menjadi milikku, jaga diri ya di sini aku tak mau mendengar Ree Na ku jalan dengan namja lain ya”
 “Tak mau ahh… pasti lah aku jalan dengan namja lain”
 “Enak saja memutuskan sendiri pokoknya tidak boleh dengan siapa pun, aku akan memberinya pelajaran pada namja  itu kalau berani dekatimu”
 “Maksud aku bagaimana kalau aku jalan sama Appaku, kamu berani? Heheheeee
 "yah aku kira kamu serius mengatakannya"
 “Ya sudahlah,  istirahat besok kan kamu akan berangkat”
 “Ne…”

***

         Kata terakhir yang membuat perasaan ini terasa lebih lega, kepastian yang membuat kami melupakan yang ada disekitar kami, bahkan Soo He Aku juga tak tau apakah Soo He bisa segampang itu menerima statusku dengan Seung Hyun sekarang. Mungkin sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk memberi tahukannya, mungkin nanti.

Esok telah tiba dimana merupakan hari terakhir aku bisa bertemu dengan Soo He. Apakah aku harus mengantarnya ke bandara tapi itu akan membuatku merasa lebih berat untuk melepaskanya, jadi kuputuskan untuk tidak bertemu dan menghubunginya hari ini. Terdengar suara dari depan rumah ternyata Soo He yang ingin mengajakku jalan-jalan. Dengan senang hati ku terima ajakan Soo He kebetulan hari ini hari minggu lagi tak ada pekerjaan di rumah, dari pada memikirkan Seung Hyun yang hanya membuatku tambah sedih, lebih baik aku jalan-jalan bersama Soo He saja. Aku naik ke mobil Soo He yang sudah dari tadi parkir di depan rumahku. Kami menyusuri jalan dengan penuh kegembiraan. Tapi aku tak menyangka Soo He ternyata mengajakku ke bandara, ya Tuhan apa lagi ini, ternyata Soo He masih menaruh perasaan pada Seung Hyun. Apa yang harus kukatakan pada Soo He apa aku harus merahasiakan hubunganku dengan Seung Hyun? Tapi aku yakin dia tak dapat menerima semua ini. Aku tak dapat membayangkan jikalau Soo He tau semua ini mungkin takkan ada lagi canda bersamanya. Mungkin dengan kepergian Seung Hyun ke Jepang akan mempermudah aku untuk merahsiakan ini.

Sesampai di bandara  sejurus kami memandang ke angkasa, ternyata pesawat yang di tumpangi Seung Hyun sudah berangkat. Aku hanya bisa tersenyum menyaksikannya, ingin menahan Seung Hyun agar tak pergi tapi itu sudah tak mungkin. Soo He pun membuka pembicaraan.

“Ree Na Bagaimana ini aku sudah tak bisa bertemu dengan Seung Hyun lagi” keluh Soo He
“Sudalah Soo He tenang saja pasti dia akan baik-baik saja di sana”
“seandai pesawatnya  bisa kembali lagi ke sini”
“Ahh kamu ini ngawur saja, sudalah relakan saja”
“Andai kita berangkat lebih cepat ya, pasti aku bisa ketemu dengan Seung Hyun untuk terakhir kalinya”

Terlihat sekali raut muka Soo He yang sangat kecewa, aku makin nggak tega mengatakan yang sebenarnya telah terjadi. Setelah pesawat Seung Hyun tak terjangkau oleh pandangan kami lagi kami pun bergegas meninggalkan bandara. Tak ingin melihat Soo He semakin kecewa, akhirnya ku mantapkan dalam hatiku untuk tidak mgemberi tahukan padanya tentang hubungan kami.

Hati ini menagis, namun hanya kata selamat tinggal yang dapat kulantunkan dengan air mata yang mengiringinya. Seung Hyun selamat tinggal maafkan aku jikalau pernah membuatmu kecewa mungkin di kemudian hari Tuhan akan mempertemukana kita lagi dalam suasana yang lebih indah, dan tak serumit sekarang. Soo He maafkan aku pula karna aku sekarang telah menjadi kekasih Seung Hyun orang yang sangat kamu sayangi. Rasa sayangku pada Seung Hyun munkin menjadi penghianatan bagimu namun ini semua terjadi tanpa unsur sengaja, semuanya datang begitu saja, maafkan juga aku tak memberitahukanmu, karena ku yakin kamu tak akan bisa menerimanya. Perjalanan hidup ini memang butuh pengorbanan tak ada yang dapat kita miliki dengan segala kesempurnahannya.



Tell me goodbye, tell me goodbye 
dakishimeta te wo 
Tell me goodbye, tell me goodbye 
hanasou 
boku wo wasureru koto ni jiyuu ni naru nara Baby 
Tell me goodbye, tell me goodbye 
Girl you know kimi ga egao wo naku shitaku hodo 
boku wa jibun mo semeru yo 
nego semeru kotoba mo hikari sae mo 
nanimokamo miushinau 
Baby kono kuchibiru ga hanareta shunkan 
I’ll never find better, better than you


Tell Me Goodbye_Bigbang (lagu yang selalu mengingatkanku padanya)

~to be continue~


Let's Go with Love (Part 2)

Title : Lets Go with Love Part 2

Cast:

- Ree Na

- Choi Seung Hyun

- Seungri

Author: Andi Nurmiyanti Halik

Genre: Romance and Family



sinopsis LGL 1: Ree Na jatuh cinta pada mantan kekasih sahabatnya yaitu Seung Hyun, dan ternyata yang lebih mengagetkan lagi Seung Hyun juga sebenarnya munyukai Ree Na. kisah kasih pun di mulai tapi tanpa sepengetahuan sahabatnya Soo He. namun Seung Hyun harus meninggalkan Ree Na karena harus ikut ayahnya yang dipindah tugaskan ke Jepang.




maafkan aku pergi dalam keadaan ini...
tapi asal kau tahu perasaan ini akan tetap utuh
kupersembahkan segelintir air mata sendu...
jangan pernah melupakanku
walau mungkin suatu hari kau akan menyekutukanku...



Dua tahun telah berlalu tanpa pernah bertemu dengan Seung Hyun, hanya telepon dan e-mail yang membuat kami bertahan sampai sekarang. Rindu sekali dengannya. Sekarang aku sudah lulus SMA dengan nilai yang cukup baik, aku ingin sekali kuliah di Jepang, ingin bertemu dengan Seung Hyun, tapi itu tidak mungkin, pasti eomma dan appaku tidak mungkin mengizinin aku kuliah jauh-jauh. Akhirnya aku mendaftar Re Naa di Universitas Yonsei yang merupakan salah satu universitas ternama dan tertua di Seoul, kami masuk Fakultas Seni dan Desain. Pagi itu aku dan Ree Na memang sudah janjian mau berangkat sama-sama.

“Ree Na… lama betul dandannya?”

“Ne… tunggu bentar hampir selesai kok”

“Seperti mau kemana saja, sampai dandan cantik-cantik begitu”

“Iya dong, siapa tahu ada namja keren, eh suka deh sama aku, hehehe…”

“Hmmm… aku kasih tahu Seung Hyun baru tahu rasa kamu”

“Ampun nyonya, hanya bercanda kok, heee…”

“Ayo berangkat! nanti pendaftarannya tutup lagi gara-gara kita terlambat”

“Ok…”

Aku dan Hyun Mi pun beriringan keluar dari rumah, dan segera berangkat setelah memberhentikan taxi. Tak lama kami pun sampai di tempat tujuan, aku dan Hyun Mi cepat-cepat berlari menuju pos pendaftran, karena terburu-buru aku bertabrakan dan jatuh.

“Aduh… mianhata…! Kamu tidak apa-apa kan?” sambil berdiri

“Kamu kalau jalan liat-liat dong!!” gerutuku

Sejurus aku memandang orang yang telah menabraknya, belum sempat aku melanjutkan omelanku, darahku seakan berhenti mengalir, detak jarum jam seakan berhenti, dan bumi pun seakan berhenti berputar. Aku hanya termangu, mataku berkaca-kaca. Terasa ini semua hanya mimpi, aku tak tahu apa yang harus ku lakukan ingin sekali memeluknya dengan erat melepaskan segala rindu yang telah yang telah menjadi gumpalan sebesar Benua Asia. Seung Hyun akhirnya kau kembali, seperti haranpanku dulu kau pasti akan kembali menemuiku di sini, tempat di mana kita pernah saling menahan persaan untuk sebuah persahabatan. Kulihat Hyun Mi pun merasakan pula kebahagianku. Seung Hyun kemudian membuka pembicaan.

“Ree Na, kamu baik-baik aja kan?”

“Ne Seung Hyun, aku baik kok! Kamu kok nggak bilang kalau mau kembali ke sini aku kan bisa jemput kamu di bandara”

“Aku ingin memberimu surprise”

“Jam berapa tadi kau tiba di sini?”

“Jam sepuluh pagi tadi”

“Tapi kok kamu tahu kalau aku ada di sini?”

“Iya lah, apa sih yang tidak aku tahu tentang kamu, aku kan pacar kamu, mana mumgkin aku tidak tahu tentang pacarku yang tersayang ini” sambil mencubit pipiku

“Ihh... kok cubit-cubit segala, aku kan bukan anak kecil, Aku kan sudah dewasa sudah mau kuliah lagi!” seru Ree Na sedikit menggoda.

“Iya…, tapi kelakuanmu masih kayak anak kecil”

“O iya, bagaimana kalo kita merayakan kedatangannya Seung Hyun sebentar malam? Sekalian kangen-kangenan” potong Hyun Mi.

“Ahh… kamu Ree Na, bisa saja” jawab Hyun Mi malu-malu. “Ne, aku setuju, tapi di mana?”

“Bagaimana kalau di rumahku saja?” jawab Hyun Mi enteng.

“Oke deh kalau begitu, sampai ketemu sebentar malam lagi” ucap Ree Na penuh semangat.

“Mau aku antar kedalam?” tanya Seung Hyun.

“Anni Seung Hyun, kamu kan baru datang, pasti capek. Lebih baik kamu pulang saja ke rumah istirahat! Lagi pula nanti dicari eomma sama appa kamu”

“Ne, tuan putri! Perintah akan segera dilaksanakan”

Seung Hyun pun akhirnya minggalkan kami. Aku dan Hyun Mi segera pergi ke tempat pendaftaran.

***

Malam itu sangat indah terasa lagit begitu bersabat, bintang-bintang pun tersenyum melihat kebahagian malam itu. Malam yang tak pernah aku bayangkan, di sudut malam hanya ada keceriaan. Dan seteleh malam itu hari-hariku terasa lebih berwarna.

Hari ini Seung Hyun mengajakku untuk jalan-jalan ke Hyangwonjeong, sebuah taman di Gyeongbokgung Seoul. Tanpa pikir panjang aku setuju dengan ajakannya akan tetapi aku meminta izin pada eomma dan appaku, untung aku dibolehkan pergi yang penting jangan sampai pulang kemalaman. Sore itu sekitar pukul 15.00 Seung Hyun sudah ada di depan rumah dan langsung meminta izin pada appa dan eommaku untuk memculikku sebentar. Mobil Seung Hyun pun melaju, sekitar pukul 15.45 kami sudah sampai di Hyangwonjeong, kami berjalan menyusuri jebatan kecil dan panjang, danau yang airnya tenang menambah suasana keindahan tempat itu. Karena kebetulan hari itu hari minggu banyak orang yang berkunjung ke Hyangwonjeong mulai dari keluarga yang piknik sampai yang hanya sekedar mencari suasana.

Beberapa minggu telah berlalu aku dan keluargaku mendapat kabar kalau hal-abeoji (kakek) sedang sakit keras. Kami dipesan untuk pulang ke Gyeongju melihat keadaan hal-abeoji, tak lupa aku memberi tahukan pada Seung Hyun kalau aku akan pergi ke Gyeongju sekitar seminggu atau dua minggu. Seung Hyun hanya bisa pasrah atas kepergianku.

Sesampainya di Gyeongju aku langsung melihat keadaan hal-abeoji ternyata kakek terlihat begitu lemah keluargaku memutuskan untuk membawa kakek ke rumah sakit. Aku hanya bisa berdoa agar kakek bisa cepat sembuh. Hal-abeoji memang sudah mengidap penyakit jantung sepuluh tahun yang lalu ini kedua kalinya penyakit kakek itu kambuh setelah sekian lama. Aku juga kurang tahu kenapa penyakit itu kambuh lagi. Setelah ada keterangan dari dokter kalu kedaaan kakek sudah agak membaik, kakek baru bisa dibiarkan pulang. Aku dan keluargaku memutuskan untuk tinggal seminggu lagi di Gyeongju untuk memasikan kedaan hal-abeoji sudah benar-benar pulih. Tapi siapa yang menyangka kalau aku bisa bertemu dengan Seungri oppa. Ya Seungri oppa seorang namja yang selalu ku tolak cintanya sampai berkali-kali. Entah kenapa dia mendapatiku sedang berjalan-jalan di sekitar rumah kakek. Tapi aku tak heran Karena memang rumah Seungri tak jauh dari rumah hal-abeoji.

“Annyeong, Ree Na” sapa Seungri santai.

“Annyeong juga oppa” sapaku sedikit kaget

“sudah lama ya tidak berjumpa, kau makin cantik saja” goda Seungri oppa.

“Ahh, oppa tak usah memujiku seperti itu, aku sudah tahu maksud kedatangan oppa kesini” jawab Hyun Mi agak sinis.



Seungri oppa hanya tersenyum melihatku bertingkah aneh, tak terasa oppa menarik tanganku dan mengajakku berlari bersamanya. Aku tak bisa berkata apa-apa dia terus menarikku dan sampailah kami di sebuah tempat yang tak asing lagi bagiku. Di bawah pohon rindang itu tempat bermainku dengannya sewaktu masih kecil.

“Ree Na, kau masih ingat kan tempat ini? Ini tempat bermain kita dulu” jelas Seungri oppa dengan wajah yang merona.



Sejenak aku memutar kembali memoriku. Memori enam tahun yang lalu sebelum aku dan keluargaku pindah ke Seoul. Bukan karena apa aku menolak Seungri oppa tapi karena aku merasa kalau dia adalah kakak bagiku yang selau melindungiku. Sebenarnya kau sangat menyukai Seungri oppa karena selain dia selalu menjadi pelindung bagiku dia juga adalah namja yang pandai memainkan gitar dan ketika dia bernyanyi terdengar begitu indah. Terigat saat Seungri oppa menyanyikan sebuah lagu di bawah pohon ini aku akan khusuk mendengarkannya. Biasa, terdengar kicauan burung yang ikut bersenandung mengiringi musik yang dimainkan Seungri oppa. Terasa ketukan agak keras dikepalaku.

“yaaa Ree Na apa yang kau lakukan, melamun saja” menatap Hyun Mi yang baru tersadar dari lamunannya

“Adaaaaww… pekikku kesakitan, ahh oppa sakit tau…” jawabku ketus

“Lagi pula kamu melamun sih, ahh aku tahu pasti melamunkanku ya?” kata Seungri oppa dengan pedenya.

“Ihhh… oppa sok tau deh…”



Seperti yang kuduga di momen yang seperti ini Seungri oppa akan menyatakan persaanya lagi padaku. Tapi jawabanku akan tetap sama, aku tak mungkin bisa menerima perasaan yang melebihi sayang sebagai seorang kakak. Terlihat sekali muka kekecewaan yang menari-nari di wajahnya. Setelah beberapa pembicaraan itu aku diantar pulang Seungri oppa. Walaupun aku sudah memperlakukannya kurang baik dia selalu saja mengulurkan kebaikannya padaku. Karena itu aku tak pernah bisa membenci Seungri oppa.



***

Hari pertama setelah pulang dari Gyeongju, aku belum sempat bertemu dengan Seung Hyun padahal dua minggu belakangan ini aku meridukannya. Setelah menerima kabar dari Seung Hyun aku baru mengetahui kalau Seung Hyun ke luar kota karena ada beberapa uarusan.



“kenapa harus hari ini sih Seung Hyun pergi padahal aku ingin sekali bertemu dengannya” gerutuku dalam hati.



Siapa yang menyangka kalau kedatanganku ke Seoul ternyata di susul oleh Seungri oppa. Malam aku betul-betul terkejut, di luar terdengar suara bel, aku segera beranjak untuk membuka pintunya.



“Chajaaachhh.... Suprise....!!!”

“Yaahhh... Oppa, apa yang kau lakukan di sini..?” seru Ree Na kaget.

“Pabo, bukanya mempersilah kanku duduk malah banyak tanya” sambil menjitak kepala Ree Na.



Aku segera menyuruh oppa duduk di teras rumah, sekalian untuk mengbol-ngobrol. “Hehehe... mianhae Oppa aku betul-betul terkejut, jadi lupa mempersilahkan Oppa duduk” jawab Ree Na malu-malu. “Bagaimana Oppa bisa ada di sini?”.



“Oppa akan melanjutkan kuliah di sini, jadi kita kan sering bertemu lagi” jawab Seungri sengan senyum yang merekah.



“Aku tak mau bertemu Oppa...”

“Ahh... mengaku saja Ree Na pasti kau merindukanku kan..?”

“Anni, baru saja bertemu beberapa hari yang lalu masa merindukan Oppa lagi."

Sebenarnya aku tak enak kalu di godai seperi ini. Belum sempat kuberitahuakan pada Seungri oppa kau aku suadah punya kekasih. Maaf oppa aku tak sanggup harus melihatmu kecewa karena aku. Sebenarnya aku ingin memperkenalkan Seung Hyun pada oppa tapi rasanya sangat berat. Lagi pula Seung Hyun tak ada di sini, dan entah mengapa malam ini aku ingin sekali bertemu dengan Seung Hyun. Tanpa kusadari ada sesuatu yang aneh di tanganku, ku coba lari dari hayalanku untuk melihat nyataku. Ya Tuhan... Seungri Oppa memegang tanganku, eottokhe...

“Asal kau tahu Ree Na, aku tak bisa jauh darimu. Setelah pertemuan beberapa hari yang lalu, ku putuskan untuk ikut ke Seoul denganmu. Memang ini kedengarannya sangat bodoh tapi rasa sayangku, perasaanku tak bisa ku sembunyikan darimu. “Sarange” bisiknya. Terlihat sekali muka yang teramat serius menatapkku.

“Tapi Oppa...”

“Tapi kenapa lagi...??? apa yang kurang dariku?” terdengar suara oppa yang sedikit mengeras.

“Aku sudah punya kekasih lain, aku tak bisa bersamamu oppa” mataku mulai berlinag-linang. Aku tak sanggup melihat kekecewaan itu lagi. Kumantapkan hatiku untuk pergi meninggalkan Seungri oppa. Tapi belum sempat aku beranjak dari tempat dudukku. Ku pandangi seseorang yang tak asing lagi di mataku. Ya tak salah lagi, Seung Hyun yang sedari tadi ada di hadapan kami, tangannya dihiasi rangkain bunga yang indah seketika ia jatuhkan. Karena aku yang terjebak dalam kekacauan perasaan ini, tak ku sadari kedatangannya. Beberapa detik aku bertatapan denganya dan Seung Hyun segera pergi meninggalkan kami yang masih termangu. Perasaanku betul-bertul kacau, Seung Hyun pasti salah paham dengan kejadian tadi. Bergegas kulangkahkan diriku ke dalam rumah untuk mencari kunci mobil yang tergeletak manis di meja belajarku.

Tak sempat lagi ku lihat Seungri oppa, tak sempat lagi aku berpamitan padanya yang ada dipikiranku saat ini hanya Seung Hyun. Bagaimana cara untuk menjelaskan kesalah pahaman ini. Maafkan aku oppa, meninggalkanmu begitu saja. Kulajukan mobil sekencang mungkin, tapi nihil mobil Seung Hyun lelah lenyap dari pandanganku. Aku tak bisa mengejar mobilnya yang mungkin lajunya lebih cepat dariku. Di perjalanan menuju ke rumah Seung Hyun hujan tiba-tiba mengguyur kota Seoul, seakan langit pun ikut meneteskan air mata untukku. Tapi itu tak menjadi benteng penghalang untukku. Beberapa menit kemudian aku sudah berada di depan rumah Seung Hyun tapi aku tak mendapati mobilnya. Mungkinkah Seung Hyun tak pulang ke rumahnya malam ini tapi kemana dia?

Pukul 23.44 aku belum menemukan jejak keberadaan Seung Hyun, tapi tak sedikitpun rasa lelahku untk menemukannya. Hujan semakin deras tak membuatku patah semagat, kulajukan kembali mobilku ke jalan yang sudah agak sunyi, konsentrasiku makin buyar hingga truk besar berwarna biru hampir menabrakku. Ku banting stir membuatku mendarat di sebuah pohon besar. Praaaakkkkk.....!!! tiba-tiba semua jadi gelap.

Ku buka mataku, melihat keadaan mobilku yang sudah rusak parah pasca menabrak pohon, jadi ku putusan untuk kembali pulang kerumah berjalan kaki. Sekitar pukul 03.30 AM aku masih menyusuri trotoar jalan. Sebenarya aku tak menyadari itu, semalaman ini yang kulakuakan hanya berjalan dan berjalan entah sampai kapan aku harus berjalan untuk bisa sampai ke rumah.

  Terlihat burung-burung mulai bernyanyi, dedauanan mulai meneteskan embunnya seraya menyambut pagi itu. Di pandanganku sudah ada sebuah rumah yang menjadi tujuanku seperjalanan ini. Kembali kujejakkan langkahku menuju rumah tersebut. Tapi sepertinya ada yang aneh dengan keadaan di sini. Bergegas ku memasuki rumah di sana sudah kulihat Seung Hyun menggunakan jas hitam membuatnya terlihat semakin tampan tapi sayang raut mukanya dibaluti kesedihan, kulihat pula orang tuaku yang saling berpelukan beradu isak tangis, di depannya ada foto yang begitu familiar di mataku. Ya, itu fotoku, tiba-tiba semuanya menghilang dari padangannku.


~~~end~~~

Senin, 10 Desember 2012

Berburu Rambutan

Mini ff

Title     : Berburu Rambutan
Cast     : Seungri, Jiyong, Mbak Kunti
Genre  : Horror Comedy


Malam itu Jiyong memanggil Seungri untuk makan rambutan. Entah mengapa Jiyong ingin sekali makan rambutan malam itu, dia seperti ibu-ibu hamil yang sedang mengidam. XD
"Seungri.aah.. Temani aku makan rambutan ya" ajak jiyong
"yang benner Hyung!" dengan muka sumringah..
"iya, aku serius... Tapiiii.... Sebenarnya aku tak punya rambutan itu" terlihat muka jiyong sedikit menunduk.
"jangan khawatir Hyung, aku punya ide" bohlam 5 watt di atas kepala Seungri
"apa, apa, apa, cepat katakan...!"
"begini Hyung, tetanggaku kan punya pohon rambutan yang buahnya lagi ranum-ranumnya, bagaimana kalau kita panjat itu saja.!" Tekas Seungri.
"tapi apa pemiliknya mau memberìkannya pada kita?"
"kalau kita tidak mendapat izin, kita ambil diam-diam saja Hyung."
"kau gila ya..!" jiyong dengan sedikit berterik
"Hyung ini bagainama, tak apa Hyung kita kan abil diam-diam" dengan penuh semangat.

Dugaan mereka benar ternyata pemilik pohon rambutan itu tidak mau memberikannya.
"Hyung bagaimana kalau kita jalankan saja rencana kedua" kata Seungri dengan muka penuh semangat.
Karena Jiyong ingin sekali makan rambutan maka dia dengan terpaksa menyetujui rencana Seungri
"Seungri.aah kau saja yang memanjatnya ya, aku menunggu di bawah"
"dasar Hyung ini, -.- siapa mau makan, siapa yang manjat"

Dengan berat hati Seungri pun memanjat pohon rambutan yang lumayan tinggi dan agak sedikit menyeramkan karna malam sudah sangat larut.


Di atas pohon -->
Seungri mulai menggeliatkan matanya di setiap sela-sela pohon untuk memperhatikan buah rambutan yang terkena cahaya dari rumah si pemiliknya. Matanya mulai berbinar-binar ketika melihat sekumpulan rambutan yang ranum dan terlihat sangat manis. Seungri mulai mendekati buah tersebut dan dengan sekejap mata ramburan itu telah jatuh manis di tangannya.
"yaa... Seungri. aah lemparkan rambun itu. Aku sudah tak sabar ingin memakannya" seru Jiyong dengan muka yang ikut ranum sepaerti buah rambutan itu.
"sabar sedikit Hyung!! aku baru saja mendapatknnya"

di sisi lain -->
"adaooowww...." keluh sehelai kuntilanak yang kesakitan karena rambutnya yang terlerai panjang ditarik oleh seorang manusia yang memetik rambutan.
“kalau mau petik petik saja, tapi jangan tarik-tarik rambut saya juga dong bang” keluh si mbak kunti.
“tapi kalau di lihat-lihat ke dua namja ini lucu-lucu juga... godain ahh...!!!” seru mbak kunti cengengesan

Karena mbak kunti gemas melihat Seungri dan Jiyong maka, dia pun menggodanya kedua namja itu dengan menampakkan wujudnya.
“bang kamu lucu deh” sambil mencubit pipi Seungri yang baru saja akan melemparkan rambutan untuk Jiyong.
“kuu’... kuu’... kuuntilaaa....” gubrakkkk..... belum sempat Seungri melanjutkan teriakannya dia sudah jatuh duluan dari pohon rambutan.
Jiyong yang terkejut melihat kejadian itu lari terpingakal-pingkal meninggalkan Seungri yang masih tersungkur lemas di bawah pohon.
Hyung..... tunggu aku....” Seungri mulai bangkit mengejar Jiyong yang sudah mengambil langkah seribu meninggalkannya....
“hihiiihihihihihiiiiii” mbak kunti tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan namja yang ketakutan itu.

~~~end~~~

Minggu, 09 Desember 2012

Stay For Me



Andai kau tau batapa hati ini ingin mendekapmu

Andai kau tahu betapa rasa ini berselimut abadi di kalbu

Andai kau tahu hariku hilang tanpa warna-warni  senandungmu

Hingga waktu itu, ingin rasa berdiri di sini

 

                Bulan kembali besenda gurau dengan bintang-bintang mereka terlihat sangat berseri-seri malam ini. Cahaya indanya tak lupa ia pancarkan sebagai tanda kala mereka betul-betul menikmati malam. Kembali kusandarkan tubuh ini di sebuah kursi kayu coklat bergaris. Yah, ini adalah hari pertamaku berlibur di rumah imonim (bibi). Meski jarak Seoul dan Kyoto terhitung cukup jauh tapi aku senang berlibur di sini.  Terasa sangat lama aku tak pernah berkunjung ke Soul, sekitar lima tahun yang lalu.

Ku rasakan ketenangan di sini tak ada kegaduhan yang sering ku dengarkan di Kyoto. Sungguh suasana yang sangat kurindukan, meski tak serindu pada seseorang yang sudah lama ku kagumi. Tapi kenapa aku belum bertemu dengannya. Tapi kenapa aku selalu ingin bertemu dengannya. “Arghhh... apa yang ku pikirkan ini” benakku.

Ku fokuskan kembali diriku pada apa yang ada di sekitar sebagai pengalihan agar aku tak memikirkannya. Tiba-tiba terdengar suara  imonim dari dalam rumah.

“Ryuki masuk sayang, makan dulu. Kamu kan baru sampai harusnya langsung istirahat saja!” tekas bibi.

“iya, bi nanti aku masuk, aku ingin menikmati pemandangan di sini dulu rasanya rindu dengan suasana Seoul” jawab Ryuki

“Ya sudah, tapi jangan lupa makan ya!”

yee... imonim

 

Esoknya ku putuskam untuk jalan-jalan ke taman yang letaknya tidak telalu jauh dari rumah. Ku langkahka kakiku menuju sebuah ayunan di pojok kiri taman. Yahh... inilah tempat yang selalu kurindukan. Tempat biasa diamana aku menghabiskan waktu dengannya. ku sempatkan diriku untuk bermain ayunan itu, meski hanya dengan ayunan yang lamban. Mata ini kembali menjelajahi sekitar taman. Tidak banyak yang berubah dari taman ini hanya saja pohon-pohon mulai terlihat besar dan rindang.  Tiba-tiba kurasakan ayunan yang ada di sampingku telah dimaikan oleh seorang namja yang sebenarnya tidak terasa asing di pandangan mataku. Ya Tuhan itu Jiyong. Tak sedikitpun tebesik di pikiranku dia akan datang  ke taman ini sebab aku mengira dia sudah melupakanku.

                “hei kau... apa yang sedang kau lakukan di sini?”

                “aaa... haaaa??” Ryuki yang masih dalam keadaan terkejut

                “ini bukan kan kotamu... pergi sana ke Jepang!!!” dengan ekspresi yang dibuat-buat.

“yaa Jiyong-aah kau sangat jahat... kenapa kau megusirku, aku baru saja sampai sore kemarin  dan sekarang kau menyuruhku pergi??? Manusia apa kau ini?”

                “hahaha... aku manusia super...!” Jiyong tertawa dengan sangat puas.

                “huuuuhhhh... dasar nappum nam...”

belum sempat Ryuki meneruskan kata-katanya Jiyong menghamburkan peluk rindunya pada Ryuki.

                “aahhhh... Ryuki jeongmal bogishipho” bisik Jiyong lembut

Tubuh Ryuki seketika membeku sampai ia tak bisa berkata apapun, saat itu Ryuki hanya ingin menikmati luapan rindu yang ia rasakan.

***

                Setelah kejadian itu Ryuki betul-betul menikmati liburannya di Seoul. Seperti bisa jika matahari mulai memancarakan rona merah redup saat itu Ryuki akan menikmati suasana dengan secangkir teh. Tiba-biba dari kejauhan terlihat seorang namja yang menenteng sebuah gitar sedang berlari kecil ke arahnya. Ya, itu Jiyong dengan gitar kesayangannya.

                “Sore Ryuki” sapa Jiyong

                yee.. sore juga, tumben sore-sore datang ke sini?”

                “aku hanya ingin mengunjungimu, apakah tidak boleh?”

                anniyo...”

Hening sejenak sampai terdengar lantunan musik. Jiyong mulai memainkan gitarnya dengan penuh penghayatan dia menyanyikan sebuah lagu.

Kyeou-ri ka-go bomi chajaojyo urin shideul-ko

Keuri-um so-ge mami meongdeu-reot-jyo

“Terdengar lagu yang sangat sedih, tapi kenapa Jiyong menyanyikan lagu ini. apa yang sebenarnya ingin diungkapkannya. Aku betul-betul tidak mengerti” ucapku dalam hati. Jiyong memang selalu seperti itu, dari dulu tak pernah berubah. Tahukah dia kalau aku sangat menyukainya, apakah dia juga menyukaiku? Jika dia menyukaiku kenapa dia tak pernah mngungkapkannya padaku. Dia memang selalu membuatku bingung.

“yaa.. Ryuki maukah kau menemaniku besok malam ke pesta ulang tahun temanku?”

Jiyong membuyarkan lamunanku “mwo, pesta ulang tahun?”

“bagaimana kau mau?”  tanyanya kembali

“karena aku tak punya kegitan, baiklah aku akan menemanimu” jawabnya matab.

“baiklah, aku kan menjemputmu besok malam, dandan yang cantik ya!”

Jiyong pun pergi setelah mendapatkan kepastian dariku, dia kembali tersenyum dan mengedipkan matanya. Ahhh senyumnya sungguh manis, aku bisa pingsan jika harus melihat senyumnya yang manis itu setiap hari.

***

                Aku kembali mengacak-acak lemariku, di atas ranjang sudah bertabutan pakaian yang dari tadi sibuk ku keluarkan dari tempat pristirahatannya. Ahh aku makin bingung memakai pakaian apa agar terlihat cantik di depan Jiyong. “Seseorang tolong aku!” aku mulai mengeluh kecil. Kembali ku perhatikan kamarku yang hampir mrnyerupai kapal pecah. “ahhh eottkhae...!!! imonim juga belum pulang dari tempat kerjanya. kusibukkan diriku mondar-mandir di depan cermin untuk mecocokkan pakaian dan akhirnya dari sekian keterbatasan pakain yang kubawa dari Kyoto aku memilih gaun sederhana berwarna putih dengan bintik kecil berwarna ungu, terlihat sangat sederhana tapi menurutku cukup menarik. Dan akhirnya aku selesai juga setelah hampir dua jam berada di depan cermin. Tiba-tiba terdengar seseorang sedang membuka pintu, mungkin itu bibi.

                “Yaaa.... Ryuki apa kau sudah selesai” teriak Jiyong

                “ahhh... aku kira bibi, yee aku sudah selesai, tunggu aku akan keluar” teriak Ryuki yang masih di dalam kamar

                Aku pun keluar dari kamar, di ruang tamu Jiyong sedang duduk santai. Dia menoleh ke arahku dan sedikit benggong.

                “ada yang salah dengan dandananku” tanya Ryuki sedikit gugup

               “ahhh... anniyo.. kau cantik” pujinya dengan memamerkan senyumnya yang semanis gulali.  

Dan  masih dengan senyumnya, Jiyong bediri dari tempat duduknya dan menarik tanganku pergi. Malam ini sepertinya Jiyong menggunakan mobil appanya, karena katanya jarak rumahnya dengan rumah temannya itu cukup jauh. Di mobil tidak ada perbincangan diantara kami. entah mengapa malam ini aku merasa kikuk di hadapannya, aku merasa aneh dengan dandannku. Tapi ya sudahlah.

                Di pesta kami sisambut hangat oleh teman-teman jiyong yang sudah datang dari tadi. Jiyong memperkenalkannku pada teman-temanya. Jiyong kembali ngobrol dengan teman-temannya yang kelihatannya mereka sudah lama tidak bertemu. Sedangkan aku hanya terdiam katena tak seorangpun yang kukenal baik di sana kecuali Jiyong. Tiba-tiba ada seorang yeoja cantik mendekati Jiyong.

                “hai Jiyong... oraenmaniya... kau semkakin tampan saja” pujinya.

                “kau terlalu memuji  Eunji” sangkalnya.

Terlihat Jiyong snagat akrab dengan yeoja itu. Seketika rasanya kau seperti mendidih melihat keakraban mereka. Yahh... aku cemburu melihat Jiyong dekat dengan jeoja yang dipanggilnya Eunji itu. Apakah mereka mempunyai hubungan yang spesial? Tapi terlihat olehku kalau yeoja itu menyukai Jiyong dari caranya memandang, senyumnya, gelak ucapnya. Betul-betul jelas terlihat. Semakin lama mereka terlihat semaki akrab dan kau pun semkin lama semakin ingin menghilan dari tempat ini. Sungguh ini sangat menyakitkan.

                Suara dari seorang pemandu acara di ulang tahun itu membuyarkan lamunanku.

                “ok... chingudeul... malam ini akan ada persembahan spesial dari salah satu teman kita Jiyong. Dia akan membawakan sebuah lagu untuk menghibur kita malam ini... setujuuu!!!”

                Terdengar sorak sorai dari para undangan. Jiyong sebenarnya terlihat kaget harus naik kepanggung untuk membawakan sebuah lagu.

                “terimka kasih semuanya... lagu ini spesial untuk seorang yeoja yang ada di sana, bagiku dia adalah orang paling berharga dalam hidupku”

Kuarahkan pandanganku pada yeoja yang bersama Jiyong tadi, terlihat dia sangat bahagia mendengar ucapan Jiyong. Yahh sudah jelas, kalau Jiyong memang tidak memiliki persaan padaku. Kurasakan sakit yang melesat sampai ke setiap aliran darahku. Di balik malam ini aku rapuh dan tak berdaya dan yang ingin kulakukan sekarang hanya pergi dan menjauh.

                Aku berlari dari tempat itu, meninggakan Jiyong yang masih bersenandung dengan kehangatannya. “Jiyong kenapa kau tak tahu isi hatiku, kenapa kau harus menyukainya, kenapa dia, kenapa bukan aku...???” ucapku sambil berlari. Tetesan bening yang sedari tadi bermuara di pipiku semakin lama sekakin tak tertahankan, mereka rerus saja mengalir walau aku tak memintanya.

Pabo kenapa aku sangat menyukainya, kenapa aku tidak sadar kalau aku tak pantas untuknya” gerutuku dan tiba-tiba terdengar suara teriakan dari belakang, ya Tuhan itu Jiyong.

“HEI KAUUU PABO... kenapa kau meninggalkannku seenaknya hahh??” teriakknya

Aku tak mempedulikan Jiyong yang terlihat sangat lelah mengejarku, aku terus saja berjalan dan sedikit berlari kecil menjauhinya. Sebenarnya aku sangat malu karena kebodohannku ini.

Jiyong kembali berlari ke arahku, dan tanpa kusadari Jiyong sudah memelukku dari belakang. Sentak aku kaget.

“Ryuki... Untuk beberapa saat biarkan aku memelukmu, jangan meninggalkannku lagi!!” bisiknya pelan.

Hening sejenak... aku juga sudah tak bisa berkata apa-apa lagi, ini terlalu mengejutkan buatku. Jiyong membalikkan badanku ke arahnya, saat itu kami sangat dekat sampai angin pun enggan untuk mengusik.

“Kenapa Ryuki tak menyadarinya padahal, aku sudah lama menyukai Ryuki?...”

Air mataku kembali tak tertahankan lagi mereka mengalir seenaknya di pipiku. 

“Oppa sharangeyo... huhuhu... T_T” entah mengapa tangan ini berbalik memeluknya. Rasa yang tak tertahankan lagi sudah kuntuntaskan di hadapannya. Dia mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibirku dan  kembali memelukku yang kali ini lebih erat dan penuh kehangatan. Sungguh aku sangat menyukaimu Oppa.

Flash Back

Setelah Jiyong Melihat Ryuki pergi  dia berhenti bernyanyi dan meninggalkan panggung tanpa meliahat yeoja itu lagi, yang ada dipikiran Jiyong saat itu hanyalah Ryuki. Lagu yang dinyayikan jiyong spesial ia persembahna untuk Ryuki tapi karena saat itu Ryuki pikirannya sedang kacau,  ia tidak meliahat Jiyong menoleh kearahnya.


~~End~~