Minggu, 09 Desember 2012

Stay For Me



Andai kau tau batapa hati ini ingin mendekapmu

Andai kau tahu betapa rasa ini berselimut abadi di kalbu

Andai kau tahu hariku hilang tanpa warna-warni  senandungmu

Hingga waktu itu, ingin rasa berdiri di sini

 

                Bulan kembali besenda gurau dengan bintang-bintang mereka terlihat sangat berseri-seri malam ini. Cahaya indanya tak lupa ia pancarkan sebagai tanda kala mereka betul-betul menikmati malam. Kembali kusandarkan tubuh ini di sebuah kursi kayu coklat bergaris. Yah, ini adalah hari pertamaku berlibur di rumah imonim (bibi). Meski jarak Seoul dan Kyoto terhitung cukup jauh tapi aku senang berlibur di sini.  Terasa sangat lama aku tak pernah berkunjung ke Soul, sekitar lima tahun yang lalu.

Ku rasakan ketenangan di sini tak ada kegaduhan yang sering ku dengarkan di Kyoto. Sungguh suasana yang sangat kurindukan, meski tak serindu pada seseorang yang sudah lama ku kagumi. Tapi kenapa aku belum bertemu dengannya. Tapi kenapa aku selalu ingin bertemu dengannya. “Arghhh... apa yang ku pikirkan ini” benakku.

Ku fokuskan kembali diriku pada apa yang ada di sekitar sebagai pengalihan agar aku tak memikirkannya. Tiba-tiba terdengar suara  imonim dari dalam rumah.

“Ryuki masuk sayang, makan dulu. Kamu kan baru sampai harusnya langsung istirahat saja!” tekas bibi.

“iya, bi nanti aku masuk, aku ingin menikmati pemandangan di sini dulu rasanya rindu dengan suasana Seoul” jawab Ryuki

“Ya sudah, tapi jangan lupa makan ya!”

yee... imonim

 

Esoknya ku putuskam untuk jalan-jalan ke taman yang letaknya tidak telalu jauh dari rumah. Ku langkahka kakiku menuju sebuah ayunan di pojok kiri taman. Yahh... inilah tempat yang selalu kurindukan. Tempat biasa diamana aku menghabiskan waktu dengannya. ku sempatkan diriku untuk bermain ayunan itu, meski hanya dengan ayunan yang lamban. Mata ini kembali menjelajahi sekitar taman. Tidak banyak yang berubah dari taman ini hanya saja pohon-pohon mulai terlihat besar dan rindang.  Tiba-tiba kurasakan ayunan yang ada di sampingku telah dimaikan oleh seorang namja yang sebenarnya tidak terasa asing di pandangan mataku. Ya Tuhan itu Jiyong. Tak sedikitpun tebesik di pikiranku dia akan datang  ke taman ini sebab aku mengira dia sudah melupakanku.

                “hei kau... apa yang sedang kau lakukan di sini?”

                “aaa... haaaa??” Ryuki yang masih dalam keadaan terkejut

                “ini bukan kan kotamu... pergi sana ke Jepang!!!” dengan ekspresi yang dibuat-buat.

“yaa Jiyong-aah kau sangat jahat... kenapa kau megusirku, aku baru saja sampai sore kemarin  dan sekarang kau menyuruhku pergi??? Manusia apa kau ini?”

                “hahaha... aku manusia super...!” Jiyong tertawa dengan sangat puas.

                “huuuuhhhh... dasar nappum nam...”

belum sempat Ryuki meneruskan kata-katanya Jiyong menghamburkan peluk rindunya pada Ryuki.

                “aahhhh... Ryuki jeongmal bogishipho” bisik Jiyong lembut

Tubuh Ryuki seketika membeku sampai ia tak bisa berkata apapun, saat itu Ryuki hanya ingin menikmati luapan rindu yang ia rasakan.

***

                Setelah kejadian itu Ryuki betul-betul menikmati liburannya di Seoul. Seperti bisa jika matahari mulai memancarakan rona merah redup saat itu Ryuki akan menikmati suasana dengan secangkir teh. Tiba-biba dari kejauhan terlihat seorang namja yang menenteng sebuah gitar sedang berlari kecil ke arahnya. Ya, itu Jiyong dengan gitar kesayangannya.

                “Sore Ryuki” sapa Jiyong

                yee.. sore juga, tumben sore-sore datang ke sini?”

                “aku hanya ingin mengunjungimu, apakah tidak boleh?”

                anniyo...”

Hening sejenak sampai terdengar lantunan musik. Jiyong mulai memainkan gitarnya dengan penuh penghayatan dia menyanyikan sebuah lagu.

Kyeou-ri ka-go bomi chajaojyo urin shideul-ko

Keuri-um so-ge mami meongdeu-reot-jyo

“Terdengar lagu yang sangat sedih, tapi kenapa Jiyong menyanyikan lagu ini. apa yang sebenarnya ingin diungkapkannya. Aku betul-betul tidak mengerti” ucapku dalam hati. Jiyong memang selalu seperti itu, dari dulu tak pernah berubah. Tahukah dia kalau aku sangat menyukainya, apakah dia juga menyukaiku? Jika dia menyukaiku kenapa dia tak pernah mngungkapkannya padaku. Dia memang selalu membuatku bingung.

“yaa.. Ryuki maukah kau menemaniku besok malam ke pesta ulang tahun temanku?”

Jiyong membuyarkan lamunanku “mwo, pesta ulang tahun?”

“bagaimana kau mau?”  tanyanya kembali

“karena aku tak punya kegitan, baiklah aku akan menemanimu” jawabnya matab.

“baiklah, aku kan menjemputmu besok malam, dandan yang cantik ya!”

Jiyong pun pergi setelah mendapatkan kepastian dariku, dia kembali tersenyum dan mengedipkan matanya. Ahhh senyumnya sungguh manis, aku bisa pingsan jika harus melihat senyumnya yang manis itu setiap hari.

***

                Aku kembali mengacak-acak lemariku, di atas ranjang sudah bertabutan pakaian yang dari tadi sibuk ku keluarkan dari tempat pristirahatannya. Ahh aku makin bingung memakai pakaian apa agar terlihat cantik di depan Jiyong. “Seseorang tolong aku!” aku mulai mengeluh kecil. Kembali ku perhatikan kamarku yang hampir mrnyerupai kapal pecah. “ahhh eottkhae...!!! imonim juga belum pulang dari tempat kerjanya. kusibukkan diriku mondar-mandir di depan cermin untuk mecocokkan pakaian dan akhirnya dari sekian keterbatasan pakain yang kubawa dari Kyoto aku memilih gaun sederhana berwarna putih dengan bintik kecil berwarna ungu, terlihat sangat sederhana tapi menurutku cukup menarik. Dan akhirnya aku selesai juga setelah hampir dua jam berada di depan cermin. Tiba-tiba terdengar seseorang sedang membuka pintu, mungkin itu bibi.

                “Yaaa.... Ryuki apa kau sudah selesai” teriak Jiyong

                “ahhh... aku kira bibi, yee aku sudah selesai, tunggu aku akan keluar” teriak Ryuki yang masih di dalam kamar

                Aku pun keluar dari kamar, di ruang tamu Jiyong sedang duduk santai. Dia menoleh ke arahku dan sedikit benggong.

                “ada yang salah dengan dandananku” tanya Ryuki sedikit gugup

               “ahhh... anniyo.. kau cantik” pujinya dengan memamerkan senyumnya yang semanis gulali.  

Dan  masih dengan senyumnya, Jiyong bediri dari tempat duduknya dan menarik tanganku pergi. Malam ini sepertinya Jiyong menggunakan mobil appanya, karena katanya jarak rumahnya dengan rumah temannya itu cukup jauh. Di mobil tidak ada perbincangan diantara kami. entah mengapa malam ini aku merasa kikuk di hadapannya, aku merasa aneh dengan dandannku. Tapi ya sudahlah.

                Di pesta kami sisambut hangat oleh teman-teman jiyong yang sudah datang dari tadi. Jiyong memperkenalkannku pada teman-temanya. Jiyong kembali ngobrol dengan teman-temannya yang kelihatannya mereka sudah lama tidak bertemu. Sedangkan aku hanya terdiam katena tak seorangpun yang kukenal baik di sana kecuali Jiyong. Tiba-tiba ada seorang yeoja cantik mendekati Jiyong.

                “hai Jiyong... oraenmaniya... kau semkakin tampan saja” pujinya.

                “kau terlalu memuji  Eunji” sangkalnya.

Terlihat Jiyong snagat akrab dengan yeoja itu. Seketika rasanya kau seperti mendidih melihat keakraban mereka. Yahh... aku cemburu melihat Jiyong dekat dengan jeoja yang dipanggilnya Eunji itu. Apakah mereka mempunyai hubungan yang spesial? Tapi terlihat olehku kalau yeoja itu menyukai Jiyong dari caranya memandang, senyumnya, gelak ucapnya. Betul-betul jelas terlihat. Semakin lama mereka terlihat semaki akrab dan kau pun semkin lama semakin ingin menghilan dari tempat ini. Sungguh ini sangat menyakitkan.

                Suara dari seorang pemandu acara di ulang tahun itu membuyarkan lamunanku.

                “ok... chingudeul... malam ini akan ada persembahan spesial dari salah satu teman kita Jiyong. Dia akan membawakan sebuah lagu untuk menghibur kita malam ini... setujuuu!!!”

                Terdengar sorak sorai dari para undangan. Jiyong sebenarnya terlihat kaget harus naik kepanggung untuk membawakan sebuah lagu.

                “terimka kasih semuanya... lagu ini spesial untuk seorang yeoja yang ada di sana, bagiku dia adalah orang paling berharga dalam hidupku”

Kuarahkan pandanganku pada yeoja yang bersama Jiyong tadi, terlihat dia sangat bahagia mendengar ucapan Jiyong. Yahh sudah jelas, kalau Jiyong memang tidak memiliki persaan padaku. Kurasakan sakit yang melesat sampai ke setiap aliran darahku. Di balik malam ini aku rapuh dan tak berdaya dan yang ingin kulakukan sekarang hanya pergi dan menjauh.

                Aku berlari dari tempat itu, meninggakan Jiyong yang masih bersenandung dengan kehangatannya. “Jiyong kenapa kau tak tahu isi hatiku, kenapa kau harus menyukainya, kenapa dia, kenapa bukan aku...???” ucapku sambil berlari. Tetesan bening yang sedari tadi bermuara di pipiku semakin lama sekakin tak tertahankan, mereka rerus saja mengalir walau aku tak memintanya.

Pabo kenapa aku sangat menyukainya, kenapa aku tidak sadar kalau aku tak pantas untuknya” gerutuku dan tiba-tiba terdengar suara teriakan dari belakang, ya Tuhan itu Jiyong.

“HEI KAUUU PABO... kenapa kau meninggalkannku seenaknya hahh??” teriakknya

Aku tak mempedulikan Jiyong yang terlihat sangat lelah mengejarku, aku terus saja berjalan dan sedikit berlari kecil menjauhinya. Sebenarnya aku sangat malu karena kebodohannku ini.

Jiyong kembali berlari ke arahku, dan tanpa kusadari Jiyong sudah memelukku dari belakang. Sentak aku kaget.

“Ryuki... Untuk beberapa saat biarkan aku memelukmu, jangan meninggalkannku lagi!!” bisiknya pelan.

Hening sejenak... aku juga sudah tak bisa berkata apa-apa lagi, ini terlalu mengejutkan buatku. Jiyong membalikkan badanku ke arahnya, saat itu kami sangat dekat sampai angin pun enggan untuk mengusik.

“Kenapa Ryuki tak menyadarinya padahal, aku sudah lama menyukai Ryuki?...”

Air mataku kembali tak tertahankan lagi mereka mengalir seenaknya di pipiku. 

“Oppa sharangeyo... huhuhu... T_T” entah mengapa tangan ini berbalik memeluknya. Rasa yang tak tertahankan lagi sudah kuntuntaskan di hadapannya. Dia mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibirku dan  kembali memelukku yang kali ini lebih erat dan penuh kehangatan. Sungguh aku sangat menyukaimu Oppa.

Flash Back

Setelah Jiyong Melihat Ryuki pergi  dia berhenti bernyanyi dan meninggalkan panggung tanpa meliahat yeoja itu lagi, yang ada dipikiran Jiyong saat itu hanyalah Ryuki. Lagu yang dinyayikan jiyong spesial ia persembahna untuk Ryuki tapi karena saat itu Ryuki pikirannya sedang kacau,  ia tidak meliahat Jiyong menoleh kearahnya.


~~End~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar