Stay For Me
Andai kau tau batapa
hati ini ingin mendekapmu
Andai kau tahu betapa
rasa ini berselimut abadi di kalbu
Andai kau tahu hariku
hilang tanpa warna-warni senandungmu
Hingga waktu itu, ingin
rasa berdiri di sini
Bulan
kembali besenda gurau dengan bintang-bintang mereka terlihat sangat
berseri-seri malam ini. Cahaya indanya tak lupa ia pancarkan sebagai tanda kala
mereka betul-betul menikmati malam. Kembali kusandarkan tubuh ini di sebuah
kursi kayu coklat bergaris. Yah, ini adalah hari pertamaku berlibur di rumah imonim (bibi). Meski jarak Seoul dan
Kyoto terhitung cukup jauh tapi aku senang berlibur di sini. Terasa sangat lama aku tak pernah berkunjung
ke Soul, sekitar lima tahun yang lalu.
Ku rasakan
ketenangan di sini tak ada kegaduhan yang sering ku dengarkan di Kyoto. Sungguh
suasana yang sangat kurindukan, meski tak serindu pada seseorang yang sudah
lama ku kagumi. Tapi kenapa aku belum bertemu dengannya. Tapi kenapa aku selalu
ingin bertemu dengannya. “Arghhh... apa yang ku pikirkan ini” benakku.
Ku fokuskan
kembali diriku pada apa yang ada di sekitar sebagai pengalihan agar aku tak
memikirkannya. Tiba-tiba terdengar suara
imonim dari dalam rumah.
“Ryuki masuk
sayang, makan dulu. Kamu kan baru sampai harusnya langsung istirahat saja!”
tekas bibi.
“iya, bi nanti
aku masuk, aku ingin menikmati pemandangan di sini dulu rasanya rindu dengan suasana
Seoul” jawab Ryuki
“Ya sudah, tapi
jangan lupa makan ya!”
“yee... imonim”
Esoknya ku putuskam untuk
jalan-jalan ke taman yang letaknya tidak telalu jauh dari rumah. Ku langkahka
kakiku menuju sebuah ayunan di pojok kiri taman. Yahh... inilah tempat yang
selalu kurindukan. Tempat biasa diamana aku menghabiskan waktu dengannya. ku
sempatkan diriku untuk bermain ayunan itu, meski hanya dengan ayunan yang
lamban. Mata ini kembali menjelajahi sekitar taman. Tidak banyak yang berubah
dari taman ini hanya saja pohon-pohon mulai terlihat besar dan rindang. Tiba-tiba kurasakan ayunan yang ada di sampingku
telah dimaikan oleh seorang namja yang sebenarnya tidak terasa asing di
pandangan mataku. Ya Tuhan itu Jiyong. Tak sedikitpun tebesik di pikiranku dia
akan datang ke taman ini sebab aku
mengira dia sudah melupakanku.
“hei
kau... apa yang sedang kau lakukan di sini?”
“aaa...
haaaa??” Ryuki yang masih dalam keadaan terkejut
“ini
bukan kan kotamu... pergi sana ke Jepang!!!” dengan ekspresi yang dibuat-buat.
“yaa Jiyong-aah kau sangat jahat... kenapa kau megusirku, aku baru saja
sampai sore kemarin dan sekarang kau menyuruhku pergi??? Manusia apa kau ini?”
“hahaha...
aku manusia super...!” Jiyong tertawa dengan sangat puas.
“huuuuhhhh...
dasar nappum nam...”
belum sempat Ryuki meneruskan
kata-katanya Jiyong menghamburkan peluk rindunya pada Ryuki.
“aahhhh...
Ryuki jeongmal bogishipho” bisik
Jiyong lembut
Tubuh Ryuki seketika membeku
sampai ia tak bisa berkata apapun, saat itu Ryuki hanya ingin menikmati luapan
rindu yang ia rasakan.
***
Setelah
kejadian itu Ryuki betul-betul menikmati liburannya di Seoul. Seperti bisa jika
matahari mulai memancarakan rona merah redup saat itu Ryuki akan menikmati
suasana dengan secangkir teh. Tiba-biba dari kejauhan terlihat seorang namja
yang menenteng sebuah gitar sedang berlari kecil ke arahnya. Ya, itu Jiyong dengan
gitar kesayangannya.
“Sore
Ryuki” sapa Jiyong
“yee..
sore juga, tumben sore-sore datang ke sini?”
“aku
hanya ingin mengunjungimu, apakah tidak boleh?”
“anniyo...”
Hening sejenak sampai terdengar
lantunan musik. Jiyong mulai memainkan gitarnya dengan penuh penghayatan dia
menyanyikan sebuah lagu.
Kyeou-ri ka-go bomi chajaojyo urin shideul-ko
Keuri-um so-ge mami meongdeu-reot-jyo
“Terdengar
lagu yang sangat sedih, tapi kenapa Jiyong menyanyikan lagu ini. apa yang
sebenarnya ingin diungkapkannya. Aku betul-betul tidak mengerti” ucapku dalam
hati. Jiyong memang selalu seperti itu, dari dulu tak pernah berubah. Tahukah
dia kalau aku sangat menyukainya, apakah dia juga menyukaiku? Jika dia
menyukaiku kenapa dia tak pernah mngungkapkannya padaku. Dia memang selalu
membuatku bingung.
“yaa..
Ryuki maukah kau menemaniku besok malam ke pesta ulang tahun temanku?”
Jiyong
membuyarkan lamunanku “mwo, pesta ulang tahun?”
“bagaimana
kau mau?” tanyanya kembali
“karena
aku tak punya kegitan, baiklah aku akan menemanimu” jawabnya matab.
“baiklah,
aku kan menjemputmu besok malam, dandan yang cantik ya!”
Jiyong pun pergi setelah
mendapatkan kepastian dariku, dia kembali tersenyum dan mengedipkan matanya.
Ahhh senyumnya sungguh manis, aku bisa pingsan jika harus melihat senyumnya
yang manis itu setiap hari.
***
Aku
kembali mengacak-acak lemariku, di atas ranjang sudah bertabutan pakaian yang
dari tadi sibuk ku keluarkan dari tempat pristirahatannya. Ahh aku makin
bingung memakai pakaian apa agar terlihat cantik di depan Jiyong. “Seseorang
tolong aku!” aku mulai mengeluh kecil. Kembali ku perhatikan kamarku yang
hampir mrnyerupai kapal pecah. “ahhh eottkhae...!!! imonim juga belum pulang dari tempat kerjanya. kusibukkan diriku
mondar-mandir di depan cermin untuk mecocokkan pakaian dan akhirnya dari sekian
keterbatasan pakain yang kubawa dari Kyoto aku memilih gaun sederhana berwarna
putih dengan bintik kecil berwarna ungu, terlihat
sangat sederhana tapi menurutku cukup menarik. Dan akhirnya aku selesai juga
setelah hampir dua jam berada di depan cermin. Tiba-tiba terdengar seseorang
sedang membuka pintu, mungkin itu bibi.
“Yaaa....
Ryuki apa kau sudah selesai” teriak Jiyong
“ahhh...
aku kira bibi, yee aku sudah selesai, tunggu aku akan keluar” teriak Ryuki yang
masih di dalam kamar
Aku
pun keluar dari kamar, di ruang tamu Jiyong sedang duduk santai. Dia menoleh ke
arahku dan sedikit benggong.
“ada
yang salah dengan dandananku” tanya Ryuki sedikit gugup
“ahhh...
anniyo.. kau cantik” pujinya dengan
memamerkan senyumnya yang semanis gulali.
Dan masih dengan senyumnya, Jiyong
bediri dari tempat duduknya dan menarik tanganku pergi. Malam ini sepertinya
Jiyong menggunakan mobil appanya,
karena katanya jarak rumahnya dengan rumah temannya itu cukup jauh. Di mobil
tidak ada perbincangan diantara kami. entah mengapa malam ini aku merasa kikuk
di hadapannya, aku merasa aneh dengan dandannku. Tapi ya sudahlah.
Di
pesta kami sisambut hangat oleh teman-teman jiyong yang sudah datang dari tadi.
Jiyong memperkenalkannku pada teman-temanya. Jiyong kembali ngobrol dengan
teman-temannya yang kelihatannya mereka sudah lama tidak bertemu. Sedangkan aku
hanya terdiam katena tak seorangpun yang kukenal baik di sana kecuali Jiyong.
Tiba-tiba ada seorang yeoja cantik mendekati Jiyong.
“hai
Jiyong... oraenmaniya... kau semkakin
tampan saja” pujinya.
“kau
terlalu memuji Eunji” sangkalnya.
Terlihat Jiyong snagat akrab dengan yeoja itu.
Seketika rasanya kau seperti mendidih melihat keakraban mereka. Yahh... aku
cemburu melihat Jiyong dekat dengan jeoja yang dipanggilnya Eunji itu. Apakah
mereka mempunyai hubungan yang spesial? Tapi terlihat olehku kalau yeoja itu
menyukai Jiyong dari caranya memandang, senyumnya, gelak ucapnya. Betul-betul
jelas terlihat. Semakin lama mereka terlihat semaki akrab dan kau pun semkin
lama semakin ingin menghilan dari tempat ini. Sungguh ini sangat menyakitkan.
Suara
dari seorang pemandu acara di ulang tahun itu membuyarkan lamunanku.
“ok...
chingudeul... malam ini akan ada
persembahan spesial dari salah satu teman kita Jiyong. Dia akan membawakan
sebuah lagu untuk menghibur kita malam ini... setujuuu!!!”
Terdengar
sorak sorai dari para undangan. Jiyong sebenarnya terlihat kaget harus naik
kepanggung untuk membawakan sebuah lagu.
“terimka
kasih semuanya... lagu ini spesial untuk seorang yeoja yang ada di sana, bagiku dia adalah
orang paling berharga dalam hidupku”
Kuarahkan pandanganku pada yeoja yang bersama
Jiyong tadi, terlihat dia sangat bahagia mendengar ucapan Jiyong. Yahh sudah
jelas, kalau Jiyong memang tidak memiliki persaan padaku. Kurasakan sakit yang
melesat sampai ke setiap aliran darahku. Di balik malam ini aku rapuh dan tak
berdaya dan yang ingin kulakukan sekarang hanya pergi dan menjauh.
Aku
berlari dari tempat itu, meninggakan Jiyong yang masih bersenandung dengan
kehangatannya. “Jiyong kenapa kau tak tahu isi hatiku, kenapa kau harus
menyukainya, kenapa dia, kenapa bukan aku...???” ucapku sambil berlari. Tetesan
bening yang sedari tadi bermuara di pipiku semakin lama sekakin tak
tertahankan, mereka rerus saja mengalir walau aku tak memintanya.
”Pabo kenapa
aku sangat menyukainya, kenapa aku tidak sadar kalau aku tak pantas untuknya”
gerutuku dan tiba-tiba terdengar suara teriakan dari belakang, ya Tuhan itu
Jiyong.
“HEI KAUUU PABO... kenapa kau meninggalkannku
seenaknya hahh??” teriakknya
Aku tak mempedulikan Jiyong yang terlihat
sangat lelah mengejarku, aku terus saja berjalan dan sedikit berlari kecil
menjauhinya. Sebenarnya aku sangat malu karena kebodohannku ini.
Jiyong kembali berlari ke arahku, dan tanpa kusadari Jiyong sudah memelukku dari belakang. Sentak aku kaget.
“Ryuki... Untuk beberapa saat biarkan aku
memelukmu, jangan meninggalkannku lagi!!” bisiknya pelan.
Hening sejenak... aku juga sudah tak bisa
berkata apa-apa lagi, ini terlalu mengejutkan buatku. Jiyong membalikkan
badanku ke arahnya, saat itu kami sangat dekat sampai angin pun enggan untuk
mengusik.
“Kenapa Ryuki tak menyadarinya padahal, aku
sudah lama menyukai Ryuki?...”
Air mataku kembali tak tertahankan lagi mereka
mengalir seenaknya di pipiku.
“Oppa sharangeyo...
huhuhu... T_T” entah mengapa tangan ini berbalik memeluknya. Rasa yang tak
tertahankan lagi sudah kuntuntaskan di hadapannya. Dia mendaratkan sebuah
kecupan singkat di bibirku dan kembali
memelukku yang kali ini lebih erat dan penuh kehangatan. Sungguh aku sangat
menyukaimu Oppa.
Flash Back
Setelah Jiyong Melihat Ryuki pergi dia berhenti bernyanyi dan meninggalkan
panggung tanpa meliahat yeoja itu lagi, yang ada dipikiran Jiyong saat itu
hanyalah Ryuki. Lagu yang dinyayikan jiyong spesial ia persembahna untuk Ryuki
tapi karena saat itu Ryuki pikirannya sedang kacau, ia tidak meliahat Jiyong menoleh kearahnya.
~~End~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar